Skip to main content

Sejarah Perkembangan Ilmu Komunikasi Di Dunia

Image Background provided by Facebook
Awalnya, istilah ilmu komunikasi bermula dari kata publisistik dan jurnalistik yg kemudian nantinya berkembang menjadi ilmu komunikasi itu sendiri. Baik publisistik dan jurnalistik dianggap termasuk dalam kelompok ilmu sosial dan merupakan ilmu terapan. Oleh karena itu, ilmu komunikasi bersifat interdisipliner atau multidisipliner. Sang ahli bernama Bierstedt merupakan pelopor jurnalistik pertama pada tahun 1457 yg menganggap jurnalistik sebagai suatu ilmu (science) dan dan bukan sekedar pengetahuan (knowledge) saja. Kemudian di tahun 1903, seorang tokoh pers kenamaan di Amerika Serikat bernama Joseph Pulitzer mengemukakan gagasannya tentang keinginan untuk mendirikan "School of Journalism" sebagai lembaga pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan para wartawan. Gagasan Pulitzer inipun mendapat tanggapan positif dari Charles Eliot dan Nicholas Murray Butler, yg keduanya merupakan rektor di Harvard University dan Columbia University. Hal di atas terjadi dikarenakan jurnalistik itu sendiri tidak hanya mempelajari dan meniliti hal-hal yg bersangkutan dengan persuratkabaran semata, tetapi juga media massa lainnya seperti televisi dan radio. Dan dengan seiring perkembangan dan tuntutan zaman, radio dan televisi tidak hanya menampilkan pemberitaan tetapi juga produk-produk siaran lainnya. Maka dari itu, jurnalistikpun berkembang menjadi mass communication.

Dalam perkembangan selanjutnya, mass communication dianggap tidak tepat lagi karena tidak mencakup proses komunikasi yg komplit dan menyeluruh. Oleh sebab itu, penelitianpun dilakukan oleh Paul Lazarsfeld, Bernard Berelson, Hazel Gaudet, Elihu Katz, Robert Merton, Frank Stanton, Wilbur Schramm, Everett M. Rogers dan para cendekiawan lainnya, menunjukkan bahwa gejala sosial yg diakibatkan oleh media massa tidak hanya berlangsung satu tahap, tetapi banyak tahap. Gagasan tersebut dikenal dengan two-step flow communication dan multistep flow communication. Selain itu, pada aspek pengambilan keputusan atau decision making banyak dilakukan atas dasar hasil komunikasi antarpesona dan komunikasi kelompok yg merupakan bagian atau kelanjutan dari mass communication.

Oleh sebab istilah mass communication yg dianggap tidak tepat lagi, maka di Amerika Serikat mulai muncul istilah communication science atau communicology sejak tahun 1940-an, dimana kebutuhan untuk mempelajari ilmu komunikasi secara mendalam sangat dibutuhkan baik oleh pelajar maupun pengajar dan para ahli.

Dan masih di tahun yg sama, sang ahli bernama Carl I. Hovland, mengemukakan pendapatnya tentang pendefinisian ilmu komunikasi sebagai "suatu upaya sistematis untuk merumuskan prinsip-prinsip secara ketat, yang dengannya informasi tersebut ditransmisikan, serta opini dan perilakupun terbentuk". Sedangkan untuk prosesnya sendiri, Hovland mendefinisikannya sebagai "sebuah proses dimana seorang individu (Komunikator) mentransmisikan perintah (biasanya menggunakan simbol verbal) untuk mengubah perilaku individu lainnya (Komunikan)".

Kemudian pada dua dekade selanjutnya, yakni tepatnya pada tahun 1967, terbit sebuah buku berjudul "The Communicative Arts and Science Speech" ("Pembahasan Seni dan Ilmu Komunikasi") oleh pengarang Keith Brooks, yg menerangkan bahwa communicology atau ilmu komunikasi merupakan integrasi prinsip-prinsip komunikasi dari para cendekiawan di berbagai disiplin ilmu, memaparkan filsafat dari komunikasi itu sendiri, merupakan sebuah program (studi) sistematis yg mengkaji keabsahan teori, mengisi kekosongan ilmu pengetahuan, serta untuk menginterpretasikan, dan untuk menjembatani penemuan-penemuan pada displin ilmu atau studi-studi tertentu. Ilmu komunikasi menyediakan studi yg luas termasuk bagi ilmu komunikasi itu sendiri, tetapi juga tidak membatasi dirinya sendiri atas kepentingan-kepentingan atau teknik-teknik dari setiap disiplin ilmu yg ada.

Demikianlah perkembangan ilmu komunikasi di dunia, yg kemudian secara bertahap menyebar ke berbagai penjuru dunia termasuk ke negara berkembang, dimana para cendekiawan dari berbagai negara menimba ilmu ke luar negeri dalam hal ini, ke negeri yg telah lebih dahulu meniliti tentang ilmu komunikasi itu sendiri, dan membawa pulang ilmu yg mereka dapat kembali ke negara asal masing-masing.

Sekian dan Terima Kasih telah membaca artikel "Sejarah Perkembangan Ilmu Komunikasi Di Dunia" ini.
Salam...

Sumber Referensi & Inspirasi:
Buku berjudul "ILMU KOMUNIKASI - Teori dan Praktek" penulis. Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A., editor. Tjun Surjaman, Cetakan ke-21, Penerbit. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2007. Hak Cipta Dilindungi oleh Undang-Undang.

Artikel Terkait:
Baca Juga:
Lihat Semua Artikel Disini


*Mohon Maaf jika ada kesalahan kata dan penulisan pada artikel
"Sejarah Perkembangan Ilmu Komunikasi Di Dunia" ini.
Dan Jangan Lupa Juga Untuk Memberi Tanggapan dan Komentar Anda Dibawah Ini.
---"TERIMA KASIH"---

Comments

Popular posts from this blog

Fungsi Komunikasi Di Masyarakat Menurut Harold D. Lasswell

Menurut sang ahli komunikasi terkenal bernama Harold D. Lasswell, fungsi komunikasi yg terjadi di masyarakat terbagi menjadi tiga, antara lain sebagai berikut: The Surveillance of The Environment; berupa pengamatan atau pemantauan terhadap lingkungan, yakni dengan adanya persebaran komunikasi (informasi dan pesan) pada setiap anggota masyarakat di lingkungan masyarakatnya, menjadikan pemantauan dan pengawasan terhadap lingkungan atas segala sesuatu yg terjadi seperti peringatan bencana, berita ekonomi dan sosial, serta pengumuman-pengumuman penting lainnya dapat dengan mudah dan cepat tersampaikan di telinga masyarakat.Correlation of the components of society in making a response to the environment; berupa adanya penjalinan hubungan di antara komponen-komponen masyarakat di dalam merespon atau melakukan sesuatu terhadap lingkungan secara bersama-sama.Transmission of the social inheritance; berupa adanya pengalihan atau pewarisan sosial (pendidikan, agama, dan budaya,) di lingkungan ma…

Pelajari Perbedaan Media Massa dan Media Nirmassa

Media massa merupakan kata yg sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Media massa adalah media atau sarana penghubung berita atau informasi yg ditujukan kepada sejumlah orang yg relatif banyak serta memiliki jangkauan atau cakupan yg luas. Sejumlah orang yg dimaksud diatas biasa juga disebut sebagai audience (pembaca, pendengar, penonton, atau pemirsa). Adapun yg termasuk dalam kategori media massa antara lain, surat kabar, radio, televisi dan lain sebagainya.

Sedangkan media nirmassa atau juga bisa disebut sebagai media nonmassa, meliputi surat, telepon, telegram, poster, spanduk, dan masih banyak lagi. Melalui penjabaran di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa, perbedaan mendasar antara media massa dan media nirmassa hanyalah terletak pada jumlah target atau audience-nya, serta jangkauan dan cakupan yg berbeda. Media nirmasa hanya menunjukkan berita atau informasinya kepada satu atau sebagian kecil kelompok, Sehingga media nirmassa lebih bersifat pribadi atau private, berbeda …

Pengelompokan Ilmu Menurut Undang-Undang dan Pendapat Para Ahli

Di dalam Undang-Undang Pokok tentang Perguruan Tinggi No. 22 Tahun 1961, menggolongkan ilmu pengetahuan ke dalam empat kelompok yakni: Ilmu agama/kerohanian,Ilmu kebudayaan,Ilmu sosial,Ilmu eksakta dan teknik. Pengelompokkan ilmu di atas, ternyata berbeda dengan pendapat para ahli. Salah satu dari para ahli yakni Dr. Mohammad Hatta dalam bukunya yg berjudul "Pengantar ke Jalan Ilmu dan Pengetahuan" berpendapat bahwa, pengelompokkan ilmu terbagi atas tiga kelompok antara lain: Ilmu alam (yg terbagi atas teoritika dan praktika),Ilmu sosial (yg terbagi atas teoritika dan praktika),Ilmu kultur. Adapun ahli lain yg juga mengemukakan pendapatnya yakni, H. Endang Saifuddin Anshari, M.A. yg menuliskan penggolongan ilmu ke dalam tiga kelompok yg dimuat dalam bukunya yg berjudul, "Ilmu, Filsafat dan Agama" antara lain sebagai berikut: Ilmu alam (natural science),Ilmu kemasyarakatan (social science),Humaniora (humanities studies). Pendapat Anshari di atas ternyata memiliki kesa…