Wednesday, August 8, 2018

Sejarah Perkembangan Ilmu Komunikasi Di Dunia

Image Background provided by Facebook
Awalnya, istilah ilmu komunikasi bermula dari kata publisistik dan jurnalistik yg kemudian nantinya berkembang menjadi ilmu komunikasi itu sendiri. Baik publisistik dan jurnalistik dianggap termasuk dalam kelompok ilmu sosial dan merupakan ilmu terapan. Oleh karena itu, ilmu komunikasi bersifat interdisipliner atau multidisipliner. Sang ahli bernama Bierstedt merupakan pelopor jurnalistik pertama pada tahun 1457 yg menganggap jurnalistik sebagai suatu ilmu (science) dan dan bukan sekedar pengetahuan (knowledge) saja. Kemudian di tahun 1903, seorang tokoh pers kenamaan di Amerika Serikat bernama Joseph Pulitzer mengemukakan gagasannya tentang keinginan untuk mendirikan "School of Journalism" sebagai lembaga pendidikan untuk meningkatkan pengetahuan para wartawan. Gagasan Pulitzer inipun mendapat tanggapan positif dari Charles Eliot dan Nicholas Murray Butler, yg keduanya merupakan rektor di Harvard University dan Columbia University. Hal di atas terjadi dikarenakan jurnalistik itu sendiri tidak hanya mempelajari dan meniliti hal-hal yg bersangkutan dengan persuratkabaran semata, tetapi juga media massa lainnya seperti televisi dan radio. Dan dengan seiring perkembangan dan tuntutan zaman, radio dan televisi tidak hanya menampilkan pemberitaan tetapi juga produk-produk siaran lainnya. Maka dari itu, jurnalistikpun berkembang menjadi mass communication.

Dalam perkembangan selanjutnya, mass communication dianggap tidak tepat lagi karena tidak mencakup proses komunikasi yg komplit dan menyeluruh. Oleh sebab itu, penelitianpun dilakukan oleh Paul Lazarsfeld, Bernard Berelson, Hazel Gaudet, Elihu Katz, Robert Merton, Frank Stanton, Wilbur Schramm, Everett M. Rogers dan para cendekiawan lainnya, menunjukkan bahwa gejala sosial yg diakibatkan oleh media massa tidak hanya berlangsung satu tahap, tetapi banyak tahap. Gagasan tersebut dikenal dengan two-step flow communication dan multistep flow communication. Selain itu, pada aspek pengambilan keputusan atau decision making banyak dilakukan atas dasar hasil komunikasi antarpesona dan komunikasi kelompok yg merupakan bagian atau kelanjutan dari mass communication.

Oleh sebab istilah mass communication yg dianggap tidak tepat lagi, maka di Amerika Serikat mulai muncul istilah communication science atau communicology sejak tahun 1940-an, dimana kebutuhan untuk mempelajari ilmu komunikasi secara mendalam sangat dibutuhkan baik oleh pelajar maupun pengajar dan para ahli.

Dan masih di tahun yg sama, sang ahli bernama Carl I. Hovland, mengemukakan pendapatnya tentang pendefinisian ilmu komunikasi sebagai "suatu upaya sistematis untuk merumuskan prinsip-prinsip secara ketat, yang dengannya informasi tersebut ditransmisikan, serta opini dan perilakupun terbentuk". Sedangkan untuk prosesnya sendiri, Hovland mendefinisikannya sebagai "sebuah proses dimana seorang individu (Komunikator) mentransmisikan perintah (biasanya menggunakan simbol verbal) untuk mengubah perilaku individu lainnya (Komunikan)".

Kemudian pada dua dekade selanjutnya, yakni tepatnya pada tahun 1967, terbit sebuah buku berjudul "The Communicative Arts and Science Speech" ("Pembahasan Seni dan Ilmu Komunikasi") oleh pengarang Keith Brooks, yg menerangkan bahwa communicology atau ilmu komunikasi merupakan integrasi prinsip-prinsip komunikasi dari para cendekiawan di berbagai disiplin ilmu, memaparkan filsafat dari komunikasi itu sendiri, merupakan sebuah program (studi) sistematis yg mengkaji keabsahan teori, mengisi kekosongan ilmu pengetahuan, serta untuk menginterpretasikan, dan untuk menjembatani penemuan-penemuan pada displin ilmu atau studi-studi tertentu. Ilmu komunikasi menyediakan studi yg luas termasuk bagi ilmu komunikasi itu sendiri, tetapi juga tidak membatasi dirinya sendiri atas kepentingan-kepentingan atau teknik-teknik dari setiap disiplin ilmu yg ada.

Demikianlah perkembangan ilmu komunikasi di dunia, yg kemudian secara bertahap menyebar ke berbagai penjuru dunia termasuk ke negara berkembang, dimana para cendekiawan dari berbagai negara menimba ilmu ke luar negeri dalam hal ini, ke negeri yg telah lebih dahulu meniliti tentang ilmu komunikasi itu sendiri, dan membawa pulang ilmu yg mereka dapat kembali ke negara asal masing-masing.

Sekian dan Terima Kasih telah membaca artikel "Sejarah Perkembangan Ilmu Komunikasi Di Dunia" ini.
Salam...

Sumber Referensi & Inspirasi:
Buku berjudul "ILMU KOMUNIKASI - Teori dan Praktek" penulis. Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A., editor. Tjun Surjaman, Cetakan ke-21, Penerbit. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2007. Hak Cipta Dilindungi oleh Undang-Undang.

Artikel Terkait:
Baca Juga:
Lihat Semua Artikel Disini


*Mohon Maaf jika ada kesalahan kata dan penulisan pada artikel
"Sejarah Perkembangan Ilmu Komunikasi Di Dunia" ini.
Dan Jangan Lupa Juga Untuk Memberi Tanggapan dan Komentar Anda Dibawah Ini.
---"TERIMA KASIH"---

Penjabaran Fungsi Pers Berikut Pula Penjelasannya

Image Background provided by Facebook

Di dalam Undang-Undang No. 21 Tahun 1982 yg berbunyi: "Pers mempunyai hak kontrol, kritik dan koreksi yg bersifat konstruktif.", menunjukkan bahwa pers di Indonesia harus mempunyai idealisme yg jelas serta tidak bercampur dengan kepentingan lain yg hanya menjual berita demi mencari keuntungan finansial saja. Adapun idealisme yg melekat pada pers dijabarkan dalam fungsi-fungsinya antara lain sebagai berikut.


1. Fungsi menyiarkan informasi (to inform)
Menyiarkan informasi merupakan fungsi pers yg pertama dan paling utama. Dimana kebutuhan akan pers berarti kebutuhan akan informasi yg terjadi disekitar entah dalam lingkup yg sempit atau luas, serta menjadikannya sebagai sesuatu hal yg berguna bagi khalayak umum untuk mengolahnya kembali atau mentransformasinya ke dalam berbagai macam fungsi di semua segi atau bidang kehidupan lainnya.

2. Fungsi mendidik (to educate)
Pers juga berguna sebagai sarana pendidikan massa melalui berbagai surat kabar dan majalah yg memuat tulisan-tulisan ilmiah atau berisi pengetahuan umum yg penting bagi perkembangan ilmu si pelajar. Selain itu, media massa yg ada juga turut menyertakan berbagai macam karya sastra seperti cerpen, artikel dan lain sebagainya di dalam surat atau majalah yg mereka buat.

3. Fungsi menghibur (to entertain)
Di dalam fungsi yg satu ini, media massa kerap menghadirkan guyonan-guyonan dalam bentuk karikatur, cerita lucu, cerita bergambar dan lain sebagainya, sebagai bentuk hiburan untuk menyeimbangkan atau mengimbangi berita-berita berat atau artikel-artikel berbobot yg disajikan, serta merilekskan pembaca atau juga dapat sebagai bentuk alternatif bagi para pembaca yg memiliki ketertarikan atau interest untuk memilih jenis informasi yg disukainya.

4. Fungsi mempengaruhi (to influence)
Dalam fungsi yg terakhir ini, para pers memegang peranan yg sangat penting di dalam penyelenggaraan pemerintahan ataupun di dalam kehidupan bermasyarakat. Oleh sebab diatas, pemerintah membentuk sendiri lembaga penyiarannya dan lembaga yg mengawasinya agar dapat melancarkan pelaksanaan pemerintahannya di berbagai segi kehidupan. Namun, bagi pers yg independent dan berbasis swasta, jelas akan membawa kekhawatiran oleh pemerintah, disebabkan masyarakat pada umumnya lebih dan sangat mudah terpengaruh oleh pemberitaan yg ada, tanpa melihat sumber atau kredibilitas dari lembaga atau pers yg menerbitkannya.


Sekian dan Terima Kasih telah membaca artikel "Penjabaran Fungsi Pers Berikut Pula Penjelasannya" ini.
Salam...

Sumber Referensi & Inspirasi:
Buku berjudul "ILMU KOMUNIKASI - Teori dan Praktek" penulis. Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A., editor. Tjun Surjaman, Cetakan ke-21, Penerbit. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2007. Hak Cipta Dilindungi oleh Undang-Undang.

Artikel Terkait:
Baca Juga:
Lihat Semua Artikel Disini


*Mohon Maaf jika ada kesalahan kata dan penulisan pada artikel
"Penjabaran Fungsi Pers Berikut Pula Penjelasannya" ini.
Dan Jangan Lupa Juga Untuk Memberi Tanggapan dan Komentar Anda Dibawah Ini.
---"TERIMA KASIH"---