Skip to main content

Konteks Pendidikan Sebagai Proses Komunikasi


Ditinjau dari prosesnya, pendidikan sebagai proses komunikasi yakni bahwa dalam proses tersebut terlibat dua komponen, yakni pengajar sebagai komunikator dan pelajar sebagai komunikan. Di dalam proses belajar mengajar memiliki beberapa tingkatan mulai dari tingkat dasar atau bawah, menengah, dan tingkat atas. Dan pada tingkatan apapun itu, proses komunikasi antara pengajar dan pelajarnya pada hakikatnya sama, tetapi memiliki perbedaan pada jenis pesan dan kualitas  yg disampaikan oleh si pengajar kepada si pelajar.

Di dalam perbedaan antara proses komunikasi dan proses pendidikan itu sendiri, terletak pada tujuan atau efek yg diharapkan. Tujuan komunikasipun bersifat umum, sedangkan tujuan pendidikan bersifat khusus. Lazimnya, tujuan pendidikan adalah meningkatkan pengetahuan seseorang mengenai suatu hal sehingga ia menguasainya. Tujuan pendidikan itupun akan tercapai dengan baik apabila didukung dengan proses yg komunikatif dan terencana.

Pada umumnya, proses pendidikan atau belajar mengajar yg terjadi di kelas dilakukan secara face to face atau tatap muka. Adapun jenis komunikasi yg berlangsung adalah komunikasi kelompok atau group communication, akan tetapi sang pengajar sewaktu-waktu dapat mengubahnya menjadi komunikasi antarpesona yg terjadilah komunikasi dua arah dimana sang pelajar dapat menjadi komunikator ataupun komunikan, dan ini juga berlaku pada si pengajar.

Namun di dalam komunikasi dua arah ini, pelajar dituntut agar aktif memberikan respon, mengemukakan pendapat, ataupun mengajukan pertanyaan baik diminta ataupun tidak diminta. Dan jika si pelajar berlaku pasif dan hanya mendengarkan saja tanpa gairah dan ekspresi atas message yg disampaikan oleh komunikator, maka meskipun komunikasi itu bersifat tatap muka, tetap saja berlangsung satu arah, dan komunikasi itu tidak efektif.

Sekian dan Terima Kasih telah membaca artikel "Konteks Pendidikan Sebagai Proses Komunikasi" ini.
Salam...

Sumber Referensi & Inspirasi:
Buku berjudul "ILMU KOMUNIKASI - Teori dan Praktek" penulis. Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A., editor. Tjun Surjaman, Cetakan ke-21, Penerbit. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2007. Hak Cipta Dilindungi oleh Undang-Undang.

Artikel Terkait:
Baca Juga:
Lihat Semua Artikel Disini


*Mohon Maaf jika ada kesalahan kata dan penulisan pada artikel
"Konteks Pendidikan Sebagai Proses Komunikasi" ini.
Dan Jangan Lupa Juga Untuk Memberi Tanggapan dan Komentar Anda Dibawah Ini.
---"TERIMA KASIH"---

Comments

Popular posts from this blog

Fungsi Komunikasi Di Masyarakat Menurut Harold D. Lasswell

Menurut sang ahli komunikasi terkenal bernama Harold D. Lasswell, fungsi komunikasi yg terjadi di masyarakat terbagi menjadi tiga, antara lain sebagai berikut: The Surveillance of The Environment; berupa pengamatan atau pemantauan terhadap lingkungan, yakni dengan adanya persebaran komunikasi (informasi dan pesan) pada setiap anggota masyarakat di lingkungan masyarakatnya, menjadikan pemantauan dan pengawasan terhadap lingkungan atas segala sesuatu yg terjadi seperti peringatan bencana, berita ekonomi dan sosial, serta pengumuman-pengumuman penting lainnya dapat dengan mudah dan cepat tersampaikan di telinga masyarakat.Correlation of the components of society in making a response to the environment; berupa adanya penjalinan hubungan di antara komponen-komponen masyarakat di dalam merespon atau melakukan sesuatu terhadap lingkungan secara bersama-sama.Transmission of the social inheritance; berupa adanya pengalihan atau pewarisan sosial (pendidikan, agama, dan budaya,) di lingkungan ma…

Pelajari Perbedaan Media Massa dan Media Nirmassa

Media massa merupakan kata yg sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat. Media massa adalah media atau sarana penghubung berita atau informasi yg ditujukan kepada sejumlah orang yg relatif banyak serta memiliki jangkauan atau cakupan yg luas. Sejumlah orang yg dimaksud diatas biasa juga disebut sebagai audience (pembaca, pendengar, penonton, atau pemirsa). Adapun yg termasuk dalam kategori media massa antara lain, surat kabar, radio, televisi dan lain sebagainya.

Sedangkan media nirmassa atau juga bisa disebut sebagai media nonmassa, meliputi surat, telepon, telegram, poster, spanduk, dan masih banyak lagi. Melalui penjabaran di atas, kita dapat menyimpulkan bahwa, perbedaan mendasar antara media massa dan media nirmassa hanyalah terletak pada jumlah target atau audience-nya, serta jangkauan dan cakupan yg berbeda. Media nirmasa hanya menunjukkan berita atau informasinya kepada satu atau sebagian kecil kelompok, Sehingga media nirmassa lebih bersifat pribadi atau private, berbeda …

Pengelompokan Ilmu Menurut Undang-Undang dan Pendapat Para Ahli

Di dalam Undang-Undang Pokok tentang Perguruan Tinggi No. 22 Tahun 1961, menggolongkan ilmu pengetahuan ke dalam empat kelompok yakni: Ilmu agama/kerohanian,Ilmu kebudayaan,Ilmu sosial,Ilmu eksakta dan teknik. Pengelompokkan ilmu di atas, ternyata berbeda dengan pendapat para ahli. Salah satu dari para ahli yakni Dr. Mohammad Hatta dalam bukunya yg berjudul "Pengantar ke Jalan Ilmu dan Pengetahuan" berpendapat bahwa, pengelompokkan ilmu terbagi atas tiga kelompok antara lain: Ilmu alam (yg terbagi atas teoritika dan praktika),Ilmu sosial (yg terbagi atas teoritika dan praktika),Ilmu kultur. Adapun ahli lain yg juga mengemukakan pendapatnya yakni, H. Endang Saifuddin Anshari, M.A. yg menuliskan penggolongan ilmu ke dalam tiga kelompok yg dimuat dalam bukunya yg berjudul, "Ilmu, Filsafat dan Agama" antara lain sebagai berikut: Ilmu alam (natural science),Ilmu kemasyarakatan (social science),Humaniora (humanities studies). Pendapat Anshari di atas ternyata memiliki kesa…