Monday, December 11, 2017

11 (Sebelas) Asas Kepemimpinan Dalam ABRI

Image Background provided by Facebook
Sebelas Asas Kepemimpinan ABRI yg terdiri atas asas-asas sebagai berikut:
  1. Taqwa: iman dan percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa dan taat menjalankan perintahnya.
  2. Ing ngarso sung tulodo: berada di paling depan untuk memberikan tauladan yg positif kepada anak buahnya.
  3. Ing madya mangun karsa: bergiat dan menggugah semangat untuk berkreasi ditengah-tengah anak buah.
  4. Tut wuri handayani: memberi dorongan dari belakang agar anak buah maju terus dengan kesanggupan bertanggung jawab.
  5. Waspada purbawisesa: waspada disertai kemampuan mengendalikan anak buah secara bijaksana.
  6. Ambeg paramaarta: mampu memilih secara tepat mana yg terlebih dahulu harus diutamakan.
  7. Prasaja: berperilaku sederhana, tidak berlebih-lebihan.
  8. Satya: loyal kepada atasan, teman sejawat setingkat dan bawahan
  9. Gemi nastiti: mampu membatasi pengeluaran hanya kepada yg sangat mendesak, tidak hidup boros.
  10. Belaka: terbuka dan berani bertanggung jawab atas tindakan yg dilakukan.
  11. Legawa: rela untuk pada saatnya menyerahkan jabatan atau tanggung jawab kepada generasi yg lebih muda.
Sekian dan Terima Kasih telah membaca artikel "11 (Sebelas) Asas Kepemimpinan Dalam ABRI" ini.
Salam...

Sumber Referensi & Inspirasi:
Buku berjudul "ILMU KOMUNIKASI - Teori dan Praktek" penulis. Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A., editor. Tjun Surjaman, Cetakan ke-21, Penerbit. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2007. Hak Cipta Dilindungi oleh Undang-Undang.

Artikel Terkait:
Baca Juga:
Lihat Semua Artikel Disini


*Mohon Maaf jika ada kesalahan kata dan penulisan pada artikel
"11 ( Sebelas) Asas Kepemimpinan Dalam ABRI" ini.
Dan Jangan Lupa Juga Untuk Memberi Tanggapan dan Komentar Anda Dibawah Ini.
---"TERIMA KASIH"---

8 (Delapan) Perbedaan Dasar Antara Komunikasi Pembangunan Dan Komunikasi Penunjang Pembangunan

Image Background provided by Facebook
Komunikasi Pembangunan (Development Communication) dan Komunikasi Penunjang Pembangunan (Development Support Communication) memiliki delapan perbedaan dasar yg menjadi acuan untuk pemisahan dan pemakaian istilah yg tepat untuk diaplikasikan atau diterapkan pada bidang yg maksudkan. Adapun bunyi delapan perbedaan dasar tersebut adalah sebagai berikut:

(Komunikasi Pembangunan)
  1. Pada umumnya diterapkan pada entitas nasional atau makro.
  2. Secara fungsional tidak terarah dan samar-samar.
  3. Terbuka dan persuasif.
  4. Demi dampaknya mengandalkan ciri-ciri yg melekat pada teknologi.
  5. Terbatas pada media berlandaskan teknologi, yakni media massa.
  6. Jelas-jelas hirarkis "dari atas ke bawah"
  7. Penelitian teramat problematik, keragaman variabel, kesulitan akses dan kontrol, akibatnya amat kekurangan penelitian.
  8. Telah kehilangan kredibilitas bertahun-tahun.
(Komunikasi Penunjang Kebutuhan)

  1. Pada umumnya diterapkan pada entitas makro atau lokal.
  2. Secara fungsional terarah, terorientasi kepada tujuan, dan berkaitan dengan efek.
  3. Terikat pada waktu dan berbentuk kampanye.
  4. Berorientasi kepada pesan, secara hati-hati menciptakan isinya.
  5. Menggunakan media berlandaskan seluruh lapangan kebudayaan.
  6. Selalu interaktif dan partisipasif.
  7. Penelitian mudah, variabel-variabel dapat diisolasi, dikontrol, diukur, akibatnya volume besar penelitian.
  8. Telah memperoleh kredibilitas, dilakukan secara luas dengan sistem Perserikatan Bangsa-Bangsa dan lembaga-lembaga pembangunan taraf internasional dan nasional.

Sekian dan Terima Kasih telah membaca artikel "8 (Delapan) Perbedaan Dasar Antara Komunikasi Pembangunan dan Komunikasi Penunjang Pembangunan" ini.
Salam...

Sumber Referensi & Inspirasi:
Buku berjudul "ILMU KOMUNIKASI - Teori dan Praktek" penulis. Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A., editor. Tjun Surjaman, Cetakan ke-21, Penerbit. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2007. Hak Cipta Dilindungi oleh Undang-Undang.

Artikel Terkait:
Baca Juga:
Lihat Semua Artikel Disini


*Mohon Maaf jika ada kesalahan kata dan penulisan pada artikel
"8 (Delapan) Perbedaan Dasar Antara 
Komunikasi Pembangunan dan Komunikasi Penunjang Pembangunan" ini.
Dan Jangan Lupa Juga Untuk Memberi Tanggapan dan Komentar Anda Dibawah Ini.
---"TERIMA KASIH"---

Perubahan-Perubahan Paradigma Tentang Komunikasi dan Pembangunan Menurut Jan Servaes

Image Background provided by Facebook
Seorang cendekiawan asal Eropa bernama Jan Servaes, mengemukakan dalam artikelnya yg berjudul "Towards an Alternative Concept of Communication and Development" tentang perubahan-perubahan besar dalam pemikiran mengenai pembangunan dan komunikasi yg antara lain sebagai berikut:
  1. Dari pendekatan positivis-instrumentalis, yang terutama menggunakan indikator-indikator kuantifiabel, menuju kepada pendirian yg lebih normatif, yang membangun metode kualitatif dan strukturalis.
  2. Dari sudut pandang secara formal, dimana pembangunan didefinisikan dalam istilah-istilah tujuan universal yg bisa dipadukan dengan model prediktif, menuju kepada dimensi yg lebih substantif dimana pembangunan mencakup perubahan kemasyarakatan yg sifatnya kurang dapat diramalkan.
  3. Pergesaran pemahaman dari yg 'kebarat-baratan' atau etnosentris menuju ke yang kontekstual dan polisentris.
  4. Perubahan dari endogenisme melalui eksogenisme kepada globalisme.
  5. Pergeseran dari kerangka atau acuan yg amat nasional, melalui perspektif internasional kepada tingkatan analisis yang berbaur dan terpadu.
  6. Pergeseran dari pendekatan yg terutama ekonomis kepada pendekatan yg lebih universal dan interdisipliner.
  7. Pendekatan-pendekatan dari yg terpilah-pilah kepada yg menyeluruh dan lebih berorientasi kepada masalah.
  8. Dari strategi yg integrasionistis-reformistis melalui pilihan-pilihan yg revolusioner kepada kebijaksanaan-kebijaksanaan terpadu dari perubahan-perubahan yg (r)evolusioner.
Sekian dan Terima Kasih telah membaca artikel "Perubahan-Perubahan Paradigma Tentang Komunikasi dan Pembangunan Menurut Jan Servaes" ini.
Salam...

Sumber Referensi & Inspirasi:
Buku berjudul "ILMU KOMUNIKASI - Teori dan Praktek" penulis. Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A., editor. Tjun Surjaman, Cetakan ke-21, Penerbit. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2007. Hak Cipta Dilindungi oleh Undang-Undang.

Artikel Terkait:
Baca Juga:
Lihat Semua Artikel Disini


*Mohon Maaf jika ada kesalahan kata dan penulisan pada artikel
"Perubahan-Perubahan Paradigma Tentang Komunikasi dan Pembangunan Menurut Jan Servaes" ini.
Dan Jangan Lupa Juga Untuk Memberi Tanggapan dan Komentar Anda Dibawah Ini.
---"TERIMA KASIH"---

Makna Pembangunan Nasional Dikaji Dalam Buku "Rencana Pembangunan Lima Tahun Kelima 1989/90 - 1993/94"

Image Background provided by Facebook
Penegasan makna tentang pembangunan nasional dapat dikaji melalui isi dari buku "Rencana Pembangunan Lima Tahun Kelima 1989/90 - 1993/94" yg terdapat pada Bab 1 berjudul "Tujuan dan Sasaran-Sasaran Pokok Pembangunan". Adapun bunyinya sebagai berikut:
Pembangunan nasional yang dilaksanakan oleh bangsa Indonesia bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yg merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila di dalam wadah Negara Kesatuan Republik Indonesia yg merdeka, berdaulat, bersatu, dan berkedaulatan rakyat dalam suasana perikehidupan bangsa yg aman, tentram, tertib, dan dinamis serta dalam lingkungan pergaulan dunia yg merdeka, bersahabat, tertib dan damai.
Untuk mencapai tujuan tersebut diatas dengan sebaik-baiknya disusun Pola Umum Pembangunan Jangka Panjang guna mengarahkan dan menyatukan langkah dalam pembinaan dan pembangunan bangsa. Sasaran utama Pembangunan Jangka Panjang adalah terciptanya landasan yg kuat bagi bangsa Indonesia untuk tumbuh dan berkembang atas kekuatannya sendiri menuju masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.
Pembangunan nasional mencakup upaya peningkatan semua segi kehidupan bangsa. Pelaksanaan pembangunan nasional merupakan pengamalan Pancasila dan hakikat pembangunan nasional adalah pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dan pembangunan seluruh masyarakat Indonesia. Dari segi strategi pembangunan nasional, titik berat dalam Pembangunan Jangka Panjang adalah pembangunan ekonomi sedang pembangunan di bidang-bidang lainnya bersifat menunjang dan melengkapi bidang ekonomi. Pembangunan di luar bidang ekonomi dilaksanakan seirama dan serasi dengan kemajuan-kemajuan yg dicapai dalam bidang ekonomi. Dengan peningkatan hasil-hasil dalam bidang ekonomi, maka tersedialah sumber-sumber pembangunan yg lebih luas bagi peningkatan pembangunan di bidang-bidang sosial budaya, politik dan pertahanan keamanan nasional.

Sekian dan Terima Kasih telah membaca artikel "Makna Pembangunan Nasional Dikaji Dalam Buku "Rencana Pembangunan Lima Tahun Kelima 1989/90 - 1993/94"" ini.
Salam...

Sumber Referensi & Inspirasi:
Buku berjudul "ILMU KOMUNIKASI - Teori dan Praktek" penulis. Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A., editor. Tjun Surjaman, Cetakan ke-21, Penerbit. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2007. Hak Cipta Dilindungi oleh Undang-Undang.

Artikel Terkait:
Baca Juga:
Lihat Semua Artikel Disini


*Mohon Maaf jika ada kesalahan kata dan penulisan pada artikel
"Makna Pembangunan Nasional Dikaji Dalam Buku 
"Rencana Pembangunan Lima Tahun Kelima 1989/90 - 1993/94"" ini.
Dan Jangan Lupa Juga Untuk Memberi Tanggapan dan Komentar Anda Dibawah Ini.
---"TERIMA KASIH"---

Definisi Organisasi Menurut Evert M. Rogers dan Rekha Agarwala Rogers

Image Background provided by Facebook
Kata organisasi di dalam bahasa Latin disebut Organizare yg memiliki arti membentuk sebagai atau menjadi keseluruhan dari bagian-bagian yg saling bergantung atau terkoordinasi.

Istilah organisasi sering dikaitkan dengan kelompok atau kumpulan dari dua individu atau lebih yg saling bekerjasama untuk mencapai tujuan yg satu. Namun di dalam bahasa inggris, kata dasar dari organization yakni organize memiliki arti mengatur atau mengelolah.

Di antara para ahli, ada yg menyebut organisasi sebagai suatu sistem, ada juga yg menyebutnya sebagai sarana, dan lain-lain.

Menurut Evert M. Rogers dan Rekha Agarwala Rogers dalam bukunya yg berjudul "Communication in Organization" menyebutkan bahwa, "Organisasi adalah sebuah sistem stabil antar individu yg saling bekerjasama untuk meraih tujuan yg sama melalui sebuah jenjang kepangkatan dan divisi atau pembagian kerja".

Dengan menganalisa lebih dekat terhadap makna dari kata dasar organization. Kita bisa mampu memahami definisi sebenarnya dari kata organisasi, yg dimana definisi organisasi tidak hanya berhenti pada suatu kelompok atau kumpulan dua individu atau lebih yg memiliki satu tujuan, namun ternyata memiliki arti yg kompleks sebagai suatu sistem yg memiliki jangkauan yg luas terhadap struktur dan bagian-bagiannya itu sendiri yg saling berkaitan dan mendukung satu dengan lainnya.

Sekian dan Terima Kasih telah membaca artikel "Definisi Organisasi Menurut Evert M. Rogers dan Rekha Agarwala Rogers" ini.
Salam...

Sumber Referensi & Inspirasi:
Buku berjudul "ILMU KOMUNIKASI - Teori dan Praktek" penulis. Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A., editor. Tjun Surjaman, Cetakan ke-21, Penerbit. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2007. Hak Cipta Dilindungi oleh Undang-Undang.

Baca Juga:
Lihat Semua Artikel Disini


*Mohon Maaf jika ada kesalahan kata dan penulisan pada artikel
"Definisi Organisasi Menurut Evert M. Rogers dan Rekha Agarwala Rogers" ini.
Dan Jangan Lupa Juga Untuk Memberi Tanggapan dan Komentar Anda Dibawah Ini.
---"TERIMA KASIH"---

Kepemimpinan Pancasila Berdasarkan Ajaran Ki Hadjar Dewantara

Image Background provided by Facebook
Kepemimpinan Pancasila merupakan gaya kepemimpinan khas dari Indonesia yg berasal dari penghayatan dan pengamalan nilai-nilai pancasila itu sendiri. Adapun bunyi kepemimpinan pancasila berdasarkan ajaran Ki Hadjar Dewantara adalah sebagai berikut:
  1. Ing ngarso sung tulodo, yg berarti: seorang pemimpin harus mampu menjadikan dirinya sebagai panutan terhadap anak buahnya, melalui sikap dan perbuatannya.
  2. Ing madya mangun karso, yg berarti: seorang pemimpin harus mampu membangkitkan semangat berswakarsa dan berkreasi pada orang-orang yg dibawahinya.
  3. Tut wuri handayani, yg berarti: seorang pemimpin harus mampu mendorong orang-orang yg dipimpinnya, agar berani berjalan di depan dan sanggup bertanggung jawab
Sekian dan Terima Kasih telah membaca artikel "Kepemimpinan Pancasila Berdasarkan Ajaran Ki Hadjar Dewantara" ini.
Salam...

Sumber Referensi & Inspirasi:
Buku berjudul "ILMU KOMUNIKASI - Teori dan Praktek" penulis. Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A., editor. Tjun Surjaman, Cetakan ke-21, Penerbit. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2007. Hak Cipta Dilindungi oleh Undang-Undang.

Artikel Terkait:
Baca Juga:
Lihat Semua Artikel Disini


*Mohon Maaf jika ada kesalahan kata dan penulisan pada artikel
"Kepemimpinan Pancasila Berdasarkan Ajaran Ki Hadjar Dewantara" ini.
Dan Jangan Lupa Juga Untuk Memberi Tanggapan dan Komentar Anda Dibawah Ini.
---"TERIMA KASIH"---

Persiapan dan Sikap Pada Saat Sebelum Berpidato

Image Background provided by Facebook
Sebelum kita hendak menaiki mimbar dan berpidato di hadapan pendengar atau audience. Persiapan telah harus kita siapkan terlebih dahulu selagi masih berada di rumah. Dan hal pertama yg mesti kita pikirkan adalah mengenai baju atau seragam apa yg akan kita kenakan ketika hendak memberikan sambutan atau pidato di depan tamu acara atau hadirin yg hadir.

Pentingnya memilih pakaian yg tepat, merupakan aspek penting di dalam memenuhi persyaratan source attractiveness atau daya tarik sumber sebagai salah satu faktor penentu keberhasilan suatu pidato yg berkesan dan membekas di hati para pendengarnya.

Contoh sederhana sebagai bentuk pengaplikasian aspek diatas yakni, dengan mengenakan gaun atau setelan jas pada acara yg bersifat formal atau resmi dan bertemakan pakaian ala barat, atau mengenakan kebaya dan batik pada acara yg bersifat lokal atau kedaerahan.

Tidak jarang kita temui situasi dimana kita tidak mengetahui dgn pasti, dress code atau pakaian apa yg harus kita kenakan yg sesuai dengan situasi atau tema yg diangkat. Oleh karna itu, pakaian safari merupakan pilihan yg tepat sebab tidak akan membawa kejanggalan serta cocok dalam situasi apapun.

Persiapan materi atau bahan pidato juga tidak luput sebagai faktor penting atau krusial di antara faktor lainnya. Namun dengan mengesampingkan materi pidato yg kita anggap sudah mantap. Selanjutnya kita beralih pada sikap sebelum menaiki mimbar dan mulai untuk berpidato.

Sikap yg merupakan perwujudan yg menggambarkan karakteristik seseorang, serta dapat memberikan kesan kepada orang lain atas kepribadian dan kredibilitas yg dimiliki oleh mimbarwan, dirasa penting dan perlu bagi seorang narasumber yg telah memiliki 'nama' diantara para hadirin yg ada. Adapun sikap yg dituntut disini, yakni berupa sikap simpatik, dimana sang mimbarwan harus bersikap ramah dan murah senyum serta tidak bermuka kecut dan selalu bersikap tenang. Dan sebelum berjalan ke mimbar, akan lebih baik jika sang mimbarwan memberikan hormat terlebih dahulu kepada para pejabat atau tokoh-tokoh penting yg tengah duduk di barisan kursi paling depan.

Sekian dan Terima Kasih telah membaca artikel "Persiapan dan Sikap Pada Saat Sebelum Berpidato" ini.
Salam...

Sumber Referensi & Inspirasi:
Buku berjudul "ILMU KOMUNIKASI - Teori dan Praktek" penulis. Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A., editor. Tjun Surjaman, Cetakan ke-21, Penerbit. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2007. Hak Cipta Dilindungi oleh Undang-Undang.

Baca Juga:
Lihat Semua Artikel Disini


*Mohon Maaf jika ada kesalahan kata dan penulisan pada artikel
"Persiapan dan Sikap Pada Saat Sebelum Berpidato" ini.
Dan Jangan Lupa Juga Untuk Memberi Tanggapan dan Komentar Anda Dibawah Ini.
---"TERIMA KASIH"---

Definisi Perang Urat Saraf atau Psychological Warfare menurut William E. Daugherty dan Morris Janowitz

Image Background provided by Facebook
Istilah perang urat saraf merupakan istilah yg baru di era milenium ini, namun masih berupa gagasan lama yg telah ada sejak peperangan kuno atau zaman dahulu kala, dimana peperangannya masih mengandalkan jumlah dan kemampuan dari para prajuritnya, berbeda dengan peperangan zaman milenium yg lebih mengedepankan kemajuan teknologi dan persenjataannya.

William E. Daugherty bersama Morris Janowitz di dalam bukunya yg berjudul "A Psychological Warfare Casebook" menyatakan bahwa perang urat saraf dapat didefinisikan sebagai:

"The planned use of propaganda and other actions designed to influence the opinions, emotions, attitudes, and behavior of enemy, neutral, and friendly foreign groups in such a way as to support the accomplishment of national aims and objectives".

Yang diartikan ke dalam Bahasa Indonesia.

"Penggunaan secara berencana propaganda dan kegiatan-kegiatan lainnya yg dirancangkan untuk mempengaruhi pendapat, emosi, sikap, dan perilaku pihak musuh, pihak netral, dan pihak kelompok asing yg bersahabat dalam rangka mendukung pencapaian sasaran dan tujuan nasional".

Sekian dan Terima Kasih telah membaca artikel "Definisi Perang Urat Saraf atau Psychological Warfare menurut William E. Daugherty dan Morris Janowitz" ini.
Salam...

Sumber Referensi & Inspirasi:
Buku berjudul "ILMU KOMUNIKASI - Teori dan Praktek" penulis. Prof. Drs. Onong Uchjana Effendy, M.A., editor. Tjun Surjaman, Cetakan ke-21, Penerbit. PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2007. Hak Cipta Dilindungi oleh Undang-Undang.

Baca Juga:
Lihat Semua Artikel Disini


*Mohon Maaf jika ada kesalahan kata dan penulisan pada artikel
"Definisi Perang Urat Saraf atau Psychological Warfare 
menurut William E. Daugherty dan Morris Janowitz" ini.
Dan Jangan Lupa Juga Untuk Memberi Tanggapan dan Komentar Anda Dibawah Ini.
---"TERIMA KASIH"---